Monday, February 18, 2013

Ini Langkah Menpora Soal Pemanggilan Pemain Timnas

AppId is over the quota
Menpora Roy Suryo.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Roy Suryo, mengaku sudah menyiapkan langkah tersendiri untuk membantu penyelesaian pemanggilan pemain tim nasional Indonesia yang bermain di Indonesia Super League (ISL) yang selama ini menjadi kendala Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Menpora rencananya akan membentuk sebuah badan khusus untuk membenahi persoalan tersebut.

PSSI hingga saat ini memang kesulitan untuk memanggil pemain yang berkompetisi di ISL untuk memperkuat timnas. Maklum saja, sejumlah pemain tersebut selalu dilarang oleh klubnya masing-masing yang merupakan imbas dari berbagai konflik antara PSSI dan KPSI yang hingga kini belum terselesaikan.

Roy mengatakan, pembentukan badan tersebut sebelumnya sudah dibicarakan dengan pihak PSSI dan KPSI. Menurut mantan anggota Komisi I DPR itu, kubu KPSI menyatakan bersedia memberikan para pemain yang bermain di ISL jika dikelola pihak netral bukan PSSI.

"Saya sudah menemukan caranya, yaitu kita akan membuat badan timnas nasional atau apa pun itu namanya. Badan ini yang akan mengatur pemanggilan timnas dan pemain. Badan itu akan terdiri dari pengurus-pengurus PSSI dan KPSI yang berkompeten menangani timnas," ujar Roy saat dihubungi wartawan di Jakarta, Selasa (12/2/2013).

Roy mengatakan, pihaknya akan secepatnya membentuk badan tersebut karena PSSI sendiri sudah menyatakan akan memanggil para pemain yang dipersiapkan untuk menghadapi Arab Saudi di Pra-Piala Asia 2015 pada 23 Maret mendatang. Ia akan berkomunikasi lebih dulu dengan PSSI dan KPSI mengenai mekanisme pembentukan badan tersebut.

Ditambahkan Roy, pemerintah akan tetap berhati-hati mengambil langkah tersebut agar tidak dinilai sebagai bentuk intervensi. Menurutnya, pemerintah hanya menfasilitasi kedua kubu yang bertikai sekaligus akan memonitor tugas badan yang rencananya akan dibentuk pada akhir Februari atau awal Maret mendatang.

"Kita harapkan ini akan membantu penyelesaian konflik soal timnas, karena kita semua menginginkan pemain terbaik dari IPL ataupun ISL demi membentuk timnas yang tangguh," kata Menpora.

Fifa 13 Tak Mendidik Anak-anak

AppId is over the quota
Game sepak bola Fifa 13 diprotes banyak orang tua karena ada adegan pemain memprotes keputusan wasit dengan cara memaki-maki.

AMSTERDAM, KOMPAS.com - Ketua Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB), Michael van Praag, menyesalkan permainan sepak bola komputer buatan EA Sports edisi terbaru, Fifa 13, yang tak mengindahkan sisi moral. Menurutnya, banyak orangtua yang mengeluh kepadanya, karena reaksi pemain terhadap keputusan wasit dengan cara memprotes di game PlayStation itu sangat tak mendidik.

"Saya merespons permintaan banyak orangtua agar mengubah cara pemain saat beraksi terhadap keputusan wasit di Fifa PlayStation Game," tegas Van Praag di Twitter.

"Saya mengatakan hal ini dengan menyebut masalah di Komite Asosiasi FIFA dan mereka yang harus mengatasinya," lanjutnya.

Di game itu, setiap wasit membuat keputusan, para pemain memprotes dan mencaci-maki. Beberapa orangtua menilai, hal itu bisa memengaruhi tingkah laku anak-anak yang kebanyakan menyukai permainan sepak bola.

"Banyak sekali orangtua yang merasa terganggu dan keberatan. Ini seolah FIFA mendidik anak-anak muda bahwa hal itu (protes dan mencaci wasit) adahal perkara biasa dan normal. Banyak orangtua bertanya kepada KNVB agar mempertanyakan hal ini kepada FIFA dan EA untuk menghilangkan adegan protes pemain dari video," jelas Van Praag.

Van Praag tahu, FIFA memang tak membuat game tersebut. "Memang FIFA tak membuat game tersebut. Organisasi ini hanya memberi izin kepada perusahaan yang kemudian membuat game itu," katanya.

ITC Irfan Rampung

AppId is over the quota
Pemain timnas Indonesia, Irfan Bachdim.

JAKARTA, KOMPAS.com - Proses transfer Irfan Bachdim ke Chonburi FC akhirnya rampung setelah sebelumnya Internasional Tranfer Certificate (ITC) sempat terganjal. "FIFA telah mengirimkan surat konfirmasi kepada kami mengenai keabsahan status Irfan di Chonburi. Klub kami juga telah terdaftar di FIFA sebagai peserta Thailand Premier League yang sah," tulis manajemen klub seperti dilansir di situs resminya, www.chonburifootballclub.com.

Irfan sebetulnya telah resmi berseragam Chonburi sejak 26 Januari 2013. Namun, proses transfer pemain keturunan Belanda tersebut sempat bermasalah karena Irfan belum mengantongi ITC.

ITC sangat diperlukan oleh seorang pemain dalam melengkapi proses transfernya ke klub lain di luar negeri. Pihak Chonburi pun telah mewanti-wanti agar Persema Malang segera menyelesaikan proses pembuatan ITC Irfan.

"International Transfer Certificate (ITC) milik Irfan memang sempat bermasalah beberapa waktu lalu. Namun, sejak Rabu (13/02) malam kemarin ITC-nya telah dikirimkan kepada kami sehingga kelengkapan administrasi untuk transfernya telah lengkap," tuturnya.

Irfan sendiri mengaku senang bergabung dengan Chonburi. Ia yakin, kariernya akan semakin berkembang bersama klub asal Thailand tersebut. "Aku sangat senang. Aku berharap dengan bergabungnya ke Chonburi, bisa membantu timnas Indonesia. Sekali lagi saya menegaskan kalau aku pindah ke Chonburi bukan karena uang. Namun, untuk mengembangkan kemampuan aku agar bisa berkontribusi untuk timnas," bebernya.

Sunday, February 17, 2013

Dualisme Pengelolaan Timnas Bingungkan Pemain

AppId is over the quota
Para pemain Timnas Indonesia untuk laga Piala AFF 2012 lalu. Sebagian besar dari mereka kembali dipanggil masuk timnas untuk Pra-Piala Asia 2015.

JAKARTA, KOMPAS.com - Beberapa pemain tim nasional Indonesia mengaku kebingungan setelah pengelola timnas terpecah. Gelandang Persebaya Surabaya, Muhammad Taufiq, mengaku telah menerima surat pemanggilan dari Badan Tim Nasional (BTN) dan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk mengikuti pelatnas jelang laga kedua Pra-Piala Asia melawan Arab Saudi pada 22 Maret mendatang.

"Kok pemanggilan timnas ada dua. Aku jadi bingung. Hal ini membuat semakin tidak jelas," aku Taufiq saat dihubungi wartawan, Kamis (14/2/2013).

Selain Taufiq, Andik Vermansah, Raphael Maitimo, dan Irfan Bachdim juga menerima pemanggilan ganda. Taufiq menyesalkan sikap pengurus PSSI yang lebih mementingkan ego masing-masing sehingga mengorbankan pemain.

"Timnas itu kebersamaan. Ini malah pengurus sendiri-sendiri. Saya makin tidak mengerti," tegas Taufiq.

BTN yang dimotori mantan manajer timnas, Habil Maratti, sebetulnya tidak diakui PSSI. Namun, pembentukan BTN dianggap sah karena ketua umum PSSI memiliki hak preogratif dan didasarkan pada Peraturan Organisasi Nomor 7 Tahun 2010 tentang BTN. Berdasarkan landasan tersebut, BTN langsung membentuk struktur organisasi yakni Isran Noor sebagai ketua dan Habil Marati menjadi wakil ketua. Posisi sekretaris ditempati Nia dan Edi Elison.

Adapun Direktur Marketing dan Hubungan Luar Negeri ditempati Rudolf Yesayas, Direktur Media Tommy Arief, Direktur Teknik Luis Manuel Blanco, Direktur Penelitian dan Pengembangan Bando, serta Direktur Pertandingan Agustinus. Sementara posisi bendahara masih kosong.

BTN pun telah menyusun agenda pemusatan latihan selama tiga hari, 17-19 Februari, untuk pemeriksaan dan seleksi umum di Hotel Juseni, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pelatnas akan dipimpin oleh Pelatih Luiz Manuel Blanco.

Arema Keberatan Lepas Pemain ke Timnas

AppId is over the quota

JAKARTA, KOMPAS.com - Arema Indonesia keberatan melepas pemainnya untuk bergabung dengan tim nasional Indonesia. Pasalnya, tim berjuluk Singo Edan tersebut memerlukan pemainnya untuk berkompetisi di Indonesia Super League (ISL).

PSSI telah merilis 33 nama pemain yang bakal dipersiapkan untuk melakoni pertandingan Pra-Piala Asia 2015 melawan Arab Saudi pada 23 Maret mendatang. Dari 33 pemain, terdapat tiga pemain Arema yang seluruhnya merupakan pemain naturalisasi, yakni Greg Nwokolo, Victor Igbonefo, dan Christian Gonzales.

"Saya pikir sangat sulit. Satu sisi pemain dituntut nasionalismenya, tetapi di sisi lain kami memerlukan pemain untuk menjalani kompetisi," jelas CEO Arema Cronos Indonesia, Iwan Budianto, Jumat (15/2/2013).

Timnas sendiri akan mulai melakukan pemusatan latihan pada 13 Maret mendatang. Sementara di bulan Maret, Arema praktis hanya melakoni dua pertandingan yakni melawan tuan rumah Persib Bandung (16 Maret) dan Persita Tanggerang (24 Maret).

"Kami tidak akan melepas pemain begitu saja meskipun jadwal pemusatan latihan timnas tidak berbenturan dengan jadwal pertandingan. Soalnya, jeda antara jadwal pertandingan akan dimaksimalkan oleh pihak pelatih untuk mengembalikan kondisi fisik para pemain," beber Iwan.

Arema memang menargetkan juara pada musim ini. Sejauh ini, Arema mampu bersaing di papan atas setelah bercokol di peringkat ketiga klasemen sementara ISL.

Timnas U-19 Bertekad Pertahankan Gelar di HKFA

AppId is over the quota

JAKARTA, KOMPAS.com – Tim nasional Indonesia U-19 menargetkan untuk mempertahankan gelar juara pada HKFA International Youth Football Invitation Tournament 2013 yang dilangsungkan di Hongkong, 17-21 Februari 2013. Di laga itu, Indonesia akan melawan Singapura, tuan rumah Hongkong, dan Malaysia.

Pelatih Timnas Indonesia U-19, Indra Sjafri, optimistis Indonesia mampu mempertahankan gelar juara. Sebab, Indonesia sudah mempunyai pengalaman bertanding di HKFA pada tahun lalu.

“Kami harus merebut gelar juara. Tahun lalu kita mampu menjadi juara setelah mengalahkan Singapura, Makau, dan Hongkong. Gelar juara bertahan adalah modal yang baik untuk memulai turnamen tahun ini,” ujarnya, Minggu (17/2/2013).

Serangkaian persiapan telah dilakukan oleh Eriyanto dkk untuk bisa tampil maksimal. Mereka melakukan pemusatan latihan di kompleks olahraga PT Freeport di Papua pada 7-14 Februari 2013. Beberapa uji coba juga telah dilakukan, salah satunya dengan melawan klub lokal Papua.

Sesampai di Hongkong pada Jumat (15/2/2013), Indra Sjafri pun langsung menginstruksikan para pemain untuk melakukan latihan dan beradaptasi dengan cuaca di sana.

Berdasarkan jadwal yang diterima, Timnas U-19 akan bertanding melawan Singapura U-19 pada 18 Februari, kemudian lemawan tuan rumah Hongkong 19 Februari, dan terakhir meladeni Malaysia pada 20 Februari.

Pemain timnas Indonesia U-19 yang akan berlaga di ajang HKFA 2013:
Ravi Murdianton, Rully Desrian, Heri Setiawan, M. Sahrul Kurniawan, Putu Gede Juni A, Eriyanto, M. Fatchurohman, M. Hargianto, Evan Dimas, Mariando, Paulo Oktavianus, Makarius, Gavin Kwan, Ilham, Sabeq Fahmi, Indra Kelana, Muchlis Hadi Ning, Djali Ibrahim.

Wednesday, August 22, 2012

Priyo: President Need Not Be Called Problem Statement Antasari

JAKARTA, KOMPAS.com -Vice Chairman of the people's representative Council (DPR) Priyo Budi Santoso judging Team Supervisor Bank Century HOUSE need not to call President Susilo Bambang Yudhoyono to clarify statement Antasari Azhar.

"If the President, I guess don't lah (called). Urgensinya level seen yet need, "said in the Parliament Complex Priyo Senayan, Jakarta, Wednesday (15/8/2012).

Previously, Antasari said that President Susilo Bambang Yudhoyono held a meeting about the bailout of Bank Century in October 2008. At that time the Government was aware of the impact of legal policy granting bailouts that are prone to lapses.

According to the former, a number of United Indonesia cabinet members were present at the meeting I was. They were coordinating Minister for the US, the Chief Polhukam Widodo Polri (Pol) General Bambang Hendarso Danuri, Attorney-General Hendarman Supandji, and was the former. Once agreed upon, the Hippies got fresh funds eventually comes through gradually.

Priyo says, regarding the former calls will still be covered in internal timwas is necessary or not. If the faction agreed to ask for an explanation, the former Chairman of the former corruption eradication Commission that will be called to the HOUSE of REPRESENTATIVES. Now, the former crouch in the Staff Area.

"Testimony of Mr. Antasari including somewhat tumultuous if true. But I did not comment on the level of validity. If timwas wishes to listen to an explanation from Mr Antasari, I can only facilitate the meeting in timwas, "said Golkar Party politicians.

Priyo also hope that no politicians are doing about interruptions when the State of the Union speech welcoming Century HUT RI ke-67 in the House tomorrow, Thursday. "I heard there's going to interrupt a matter of Century. I highly recommend and I beg you not to (do), "Priyo pungkas.

Dirty SMS Included violence against women

JAKARTA, KOMPAS.com — Think 1000 times before sending short message service or short message system (SMS) that contain indecent, filthy, or pornography. You could end up imprisoned for sending such SMS.

It is at least proven with out the verdict of the Supreme Court as early as last August. MA punish Saiful Dian Effendi (22), a college student in Madiun, East Java, with imprisonment of five months of confinement.

MA cancel the verdict State Court and High Court of Madison Surabaya which punish with penalty attempts for Saiful 10 months. Prosecutors at the Attorney's Madiun demanding Saiful with imprisonment for 10 months, but not granted the Tribunal judges.

Chairman of the Young Criminal, Djoko Sarwoko Special MA, who served as Chairman of the Tribunal of Cassation cases Saiful, Wednesday (15/8/2012), reveal, it decides to increase the punishment because the message or slovenly Saiful indecent psychologically, including the behavior of violence against women.

"If overseas, including sexual harassment. It weighs pidananya. Hence, the punishment I raise. SMS like that right is also troubling, "said Djoko.

Djoko hope, others do not do such actions. "With this ruling, I hope the other thinkers and avoid the deed so that way," Djoko hope.

Right now, he added, is very easy to do acts that belongs as a criminal offence by SMS such as fraud or other crimes. One of the factors that trigger such action is the community getting sim card easily disposable.

"Today many thousands of five to voucer disposable. It used to do these kinds of crimes. These numbers are usually difficult to track because it is so worn it once, then discarded. Should any regulation about it, "said Djoko.

He hopes, mobile phone operators to tighten regulations on the use of sim cards are disposable. "Don't exist anymore voucer disposable, laranglah. But if do not want banned, yes tightened again. If the identity of the wearer is not clear, yes do not activated the number, "Djoko pungkas.

(ana)

Tuesday, August 21, 2012

SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Vowed There Was No Discussion Of The "Bail Out" Century

JAKARTA, KOMPAS.com — President Susilo Bambang Yudhoyono denied accusations the former Chairman of KPK Antasari Azhar that he never led the meeting which discussed the question of the inclusion of capital while the hippies on October 9, 2008 at the Office of the President, Jakarta. The heads of State consider that misleading accusations.

"I tell you before God ALMIGHTY, there is absolutely no. There's nothing offensive about Hippies. Let alone discussing such thing as bail out, "said the President in a press conference in the Presidential Palace, on Wednesday (15/8/2012) night.

The President said the meeting did not discuss plans to bail out Century, but consultation with auditors and law enforcement on how to anticipate the possibility of the arrival of the economic crisis.

Earlier, the President stated that the Metro TV, in an event, picked up the interview with former Chairman of KPK Antasari Azhar said that beginning in October 2008, President Susilo Bambang Yudhoyono led the meeting which is said to be inside discussing bail out Bank Century.

"This is what I am going to get this straight because this news on the side not right also misled," said the President.

According to the President's more explanation, present in the meeting the Ministers and Cabinet members as well as law enforcement and the Auditors, the Chairman MR Anwar Nasution, Chairman of KPK, Antasari Azhar Attorney General Hendarman Soepandji Bambang Hendarso Danuri Kapolri, and Chairman of Didi Widayadi BPKP.

Each was asked to give his views on the Presidential anticipation of facing the impact of the world economic crisis and taken directly by the President. In the meantime, no one Minister has asked for a response at the time.

In fact, to clarify the lack of discussion, the President specifically shows the book contains transcripts of conversation in the meeting which was distributed to the news media.

"The meeting was a complete Documentation. His record intact. There is video footage from the beginning to the end of the meeting. Photographs and documentation if you want to add a note of each Minister in attendance. A full transcript would be my share today, "the President said while representing the blue book.

This Chronology Meeting October 9, Version SBY

TRIBUNE NEWS/DANY PERMANAPresiden Susilo Bambang Yudhoyono, in the Presidential Palace, on Wednesday (15/8/2011), provides information associated press meeting October 9, 2008. The President insists that the meeting on that date at all did not address the matter of Century Bank bailout, but consultation with auditors and law enforcement regarding the possible arrival of anticipation of the economic crisis.

JAKARTA, KOMPAS.com -President Susilo Bambang Yudhoyono finally expose the meeting agenda and chronology on 9 October 2008 at Istana Negara, Jakarta. His exposé keynote address was presented to rebut accusations the former Chairman of KPK Antasari Azhar that he presided over the meeting which discussed the inclusion of capital while the hippies.

First of all, the President presented the development of the world economy and the impact of the situation and its implications for the economy of Indonesia. Back then, the world economy was hit by the outbreak of the economic crisis in the United States.

The meeting, among others, also attended by the head of the National Police General (Pol) Bambang Hendarso Danuri, Attorney-General Hendarman Supandji, Polhukam Widodo AS Coordinating Minister for Coordinating Minister of the economy of the Area, ad interim, STATE-OWNED Sri Mulyani Minister Sofyan Djalil, Minister State Secretary Hatta Rajasa, Cabinet Secretary Sudi Silalahi, Chairman MR Anwar Nasution, Chief of BPKP Didi Widayadi.

"After that, one by one, except for the Minister, conveying his views. Chairman MR Anwar Nasution began, then my response, Chairman of KPK Antasari Azhar, then my response, the Attorney General Hendarman Supandji, then I resppon, Kapolri Bambang Hendarso, then my response, and the last Chief of BPKP Didi Widayadi, then my response, "the President said at a news conference in the Presidential Palace, Jakarta, Wednesday (15/8/2012).

The President said, the Ministers accompanying not provides a comment associated view of law enforcers and the auditor. On that occasion, heads of State, said the meeting documentation, ranging from complete recording tapes, video footage, photographs and records of dokumentrasi, each Minister in attendance.

In order to prove this, the Presidential Palace print book which contains a transkripan meeting. The book was titled the unified face of the crisis, and has a population of 40 pages.

Artificial rain to Overcome the fire Land

JAKARTA, KOMPAS.com — Rising hotspots due to burning of land in Sumatra and Kalimantan, potentially raises the smog that can interfere with the flight. To resolve this issue would be made in a number of areas of artificial rain in Sumatra and Borneo.

"Starting mid-August until the end of September, do man-made rain around in Riau Province," said the head of the Technical Unit of the implementing Agency for the study of Artificial Rain and application of technology (BPPT) F, Widodo Heru Wednesday (15/8/2012).

Artificial Rain operation (OHB) in Riau this in accordance with the request of the Governor of Riau Province to guarantee implementation of the Pekan Olahraga Nasional (PON) in Riau is running smoothly. Among other things, there is no smog as well as water reservoirs for a number of sporting events, water capacity is adequate. Implementation of artificial rain or weather modification in this Sumatra will deploy two aircraft and two helicopters.

Meanwhile, during September will also be done to fill the reservoir artificial rain City long and Singkarak in West Sumatra, on-demand PLN.

Separately, President Director of PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Kusnan, very concerned Rahmin said no fires land around Sumatra. Causes of fires if not controlled could potentially land extends and can menganggau business activities.

"Therefore we are pro-active by integrating fire prevention management and minimize the potential for fires in unity sustainable wood cultivation system," said Kusnan.

It has also been investing by buying equipment and fire prevention fire prevention training for surrounding communities and promoting "No Burn" Policy ".

Monday, August 20, 2012

Kemenag Thank One Container Of Dates

SHUTTERSTOCKBuah dates.

JAKARTA, KOMPAS.com-The Ministry of Religion receive one container of dates from the Embassy of Saudi Arabia. These grants have been reported to the corruption eradication Commission.

"Spurn then thank the report one container of CUP dates from Saudi Arabia's Embassy to the Ministry of religion," said the COMMISSION Spokesman, Johan Budi Jakarta, Wednesday (15/8/2012).

After you scrutinized KPK, delivery dates by the Embassy of Saudi Arabia does not belongs to gratuities. KPK did give back the dates reported to the Ministry of religion.

"After you scrutinized, leader of the ruling that was handed over to the Ministry dates anymore because it doesn't make the article 12 corruption eradication Act of acceptance," said Johan.

Granting it, he continued, there is no element aims to make the Kemenag do or not do something contrary to the authority. Related to this provision, Johan also appealed to State officials across government agencies that do not accept delivery of parcels Lebaran.

"That Should have received in order to give to parties in need," he said.

FITRA: Confession Antasari Not Junk

COMPASS IMAGES/RODERICK ADRIAN MARQUE LAMONT DIXON A Former Imax Antasari Azhar.

JAKARTA, KOMPAS.com -Coordinator of Fitra Ucok Sky Khadafi revealed that former Chairman of KPK peryataan Antasari Azhar was supposed to be addressed by performing an action or KPK verification against those who took part in the meeting at that time. This is important as an attempt to add to do data assigned to the HOUSE of REPRESENTATIVES as well as data or document CCA results of audits to the CPC KPK.

"Antasari Statement not junk. So, with this public recognition, most notably Former Bank Century increasingly convinced that the bank has indeed been robbed, "said duitnya Ucok on Harris Hotel Tebet, Jakarta, Wednesday (15/8/2012).

Ucok added, recognition is important for actionable KPK was the former. The KPK as institutions which are authorized to prosecute these cases is never an enhanced bailout of Century there are important reasons for delaying the investigation of case in this Century.

KPK righteously also was not authorized to cover the case with various maneuvers that Century that open new cases.

"That is not the case that do not reveal other important, it would be important to uncover cases of this Century. Data case this Century there has been right, who led the meeting (President Susilo Bambang Yudhoyono) is possible from this problem kakapnya mast, "he added.

He explains, the former is proof of recognition of the Government of SUSILO BAMBANG YUDHOYONO with systematic has robbed the people. Antasari, brightening, the statement is not revenge or slander.

Antasari over is known for daring to be assertive eradicate corruption so many enemies in the police force and has an Attorney. He explained, should dare to uncover cases of CUP Century to start rests on the former statement.

"The statement should be followed up with Antasari KPK verifying. Once again, the former statement is not garbage. If the COMMISSION does not have the courage to follow up on his important statement this statement was the former would be considered slander when verification has not been made. What's more is now proven if many representatives or anyone close who consider the statement, "the former as junk pungkasnya.

Previously, Antasari Azhar is surprisingly said that President Susilo Bambang Yudhoyono held a meeting about the pengucuran Century Bank bailouts in October 2008. At that time the Government was aware of the impact of legal policy granting bailouts that are prone to lapses.

A number of members of the Cabinet Indonesia Unite I also present at that meeting.They were coordinating Minister for the US, the Chief Polhukam Widodo Polri (Pol) General Bambang Hendarso Danuri, Attorney-General Hendarman Supandji, and was the former.

Once agreed upon, the Hippies got fresh funds eventually comes through gradually. The first stage, the bank already make it accept Rp 2.7 trillion on November 23, 2008. The second phase, on December 5, 2008 of $ 2.2 trillion. The third stage on February 3, 2009 $ 1.1 trillion, and the fourth stage on July 24, 2009 $ 630 billion.

President Susilo Bambang Yudhoyono's Presidential Palace on Wednesday (15/8/2012) night was held a press conference to clarify the statement. He swore by Allah that no true meeting in October 2008 to discuss the bailout Century.

Secretary Of Defense: Purchase Alutista According To Plan

JAKARTA, KOMPAS.com -Ministry of defence (Mod) Purnomo Yusgiantoro said according to the procurement plan the purchase of alutsista over the past five years have been compiled in the master list. But that plan may be changed when necessary in accordance with the development of the strategic environment.

"In 2010-2014 we have created master list, what would we buy, to make known how its budget. Over the past two and a half years this progression or changes the dynamics of the strategic environment, both regionally and globally, "she recounts, in Jakarta, Wednesday (15/8/2012).

According to the Secretary of Defense, planning for the purchase of which has been drawn up, the mandatory defense strategies with customized. "They were influential on the adjustment of our planning. And the dynamics of the situation sometimes make we have to change our plans to be adjusted to achieve a goal, "he said.

The Secretary explained, master list compiled on the basis of a series of hearings that are either plenary Cabinet as well as limited. And there are seven times the trial from which the Cabinet master list.

"In the master list is not called inside buy Leopard or the Sukhoi and others. But only mentioned for example the purchase of main battle tanks. Main battle tank is a lot ragamnya. He explained later governed by the below levels, "he asserts.

Purnomo added that the ranks of the ARMED FORCES as the user who will propose to the Ministry of defence through the Secretary General of the Joint Committee of the Kemenhan and discussed the high level (High Level Committee) chaired Wamenhan as well as special teams consisting of BPKP and LKPP (Institute for the study of Government Procurement of goods/services). Master list compiled by Kemenhan else is subject to approval from Bappenas.

Sunday, August 19, 2012

Here's the full transcript of the meeting of 9 October

The formatter threw an exception while trying to deserialize the message: Error in deserializing body of request message for operation 'Translate'. The maximum string content length quota (30720) has been exceeded while reading XML data. This quota may be increased by changing the MaxStringContentLength property on the XmlDictionaryReaderQuotas object used when creating the XML reader. Line 1, position 32741.
TRIBUN NEWS/DANY PERMANAPresiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Negara, Rabu (15/8/2011), memberikan keterangan pers terkait pertemuan 9 Oktober 2008. Presiden menegaskan bahwa pertemuan pada tanggal tersebut sama sekali tidak membahas soal bailout Bank Century, melainkan konsultasi dengan auditor dan penegak hukum mengenai antisipasi kemungkinan datangnya krisis ekonomi.

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersumpah bahwa dirinya tak membahas soal penyertaan modal sementara senilai 600 juta dollar AS kepada Bank Century pada 9 Oktober 2008, sebagaimana ditudingkan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar.

"Saya katakan di hadapan Allah SWT, sama sekali tidak ada. Tidak ada yang menyinggung soal Bank Century. Apalagi membahas yang namanya bailout," ujar Presiden dalam konferensi pers di Istana Negara, Rabu (15/8/2012) malam.

Selain membeberkan kronologi rapat, Kepala Negara membeberkan transkrip rapat yang digelar di Kantor Presiden, Jakarta, dan dihadiri anggota jajaran Kabinet Indonesia Bersatu I, antara lain Menko Polhukam Widodo AS, Menteri Koordinator Perekonomian ad interim Sri Mulyani, Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri, Jaksa Agung Hendarman Supandji, Menteri BUMN Sofyan Djalil, Ketua BPK Anwar Nasution, dan Ketua BPKP Didi Widayadi.

Berikut ini adalah transkrip pertemuan tersebut.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono:

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Saudara Pimpinan BPK, Pimpinan KPK, Pimpinan BPKP, para Menteri, Jaksa Agung, Kapolri, yang saya hormati.

Pertama-tama, saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran di ruangan ini untuk memenuhi undangan saya.

Kita sama-sama mengikuti dinamika dan per­kem­bangan perekonomian kita sebagai bagian dari perekonomian dunia. Kita sering mendengar bahwa in crucial things, unity. Dalam menghadapi masa sulit diperlukan kebersamaan dan persatuan. Salah satu kegagalan dan buruknya keadaan negara kita 10 tahun yang lalu, 1998, karena absennya not only leadership dalam berbagai hal, tapi juga sinergi, kebersamaan di antara kita semua waktu itu.

Oleh karena itu, sambil kita sama-sama membangun semangat untuk melihat ke depan, melihat ke belakang untuk memetik pelajarannya supaya tidak terjadi lagi, saya sungguh ingin mengajak semua para penyelenggara negara untuk kita betul-betul sama-sama melangkah ke depan.

Pak Anwar Nasution masih ingat waktu Undang-Undang Dasar kita belum diamandemen, dulu ada penjelasan. Penjelasan itu saya kira Pak Antasari juga masih ingat ya, garis besarnya itu maju mundurnya kehidupan negara itu sangat tergantung pada semangat daripada penyelenggara negara. Bunyinya begitu, semangat daripada penyelenggara negara. lni masih berlaku sebetulnya, kita melangkah bersama.

Oleh karena itu, saya senang Bapak berkenan hadir semuanya hari ini. Dalam kapasitas saya sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara, saya ingin menjelaskan secara singkat what’s going on di negara kita ini sebagai, sekali lagi, aliran dinamika global, dan langkah-langkah ke depan seperti apa yang mesti kita tempuh, konstruksi penyelesaian masalah seperti apa, karena dalam situasi seperti ini, bisa jadi nanti ada isu-isu yang berkaitan dengan sistem, tatanan, dalam utamanya segi-segi pengambilan keputusan dan tindakan yang mesti dilakukan dengan cepat.

Ketika saya menerima Mahkamah Konstitusi beberapa hari yang lalu, lengkap dengan hakim Mahkamah Konstitusinya, saya juga sampaikan, bisa jadi nanti ada yang me­-review, men-challenge, karena undang-undang tidak mengatur ada tindakan-tindakan yang kita ambil untuk menyelamatkan negara, dipermasalahkan. Nah, dalam keadaan seperti itu, tanpa saya mengintervensi kewenangan dari Mahkamah Konstitusi, patut kita berkomunikasi, misalnya Mahkamah Konstitusi menanyakan apa latar belakangnya dan pikiran-pikiran ketika sebuah keputusan diambil.

Dalam konteks itulah, saya ke hadapan para pimpinan lembaga negara yang hadir, terutama yang tidak di bawah koordinasi saya, Pak Anwar Nasution, Pak Antasari, kita bisa menyatukan penglihatan dan persepsi. Dengan demikian, upaya kita untuk memetik pelajaran masa lalu dan sekarang, kita harus lebih melihat ke depan, itu betul-betul bisa terwujud dengan baik.

Bu Ani terpaksa kita panggil kembali. Beliau yang minta dipanggil. Mestinya masih ada urusan di Amerika, tapi dalam keadaan begini, tidak tega kalau beliau meninggalkan saya. Jadi sampai di Dubai langsung balik kanan. Bagus itu. Itu namanya crisis action leader, dan kita insya Allah semua ada di situ.

Saya minta kesabaran. Saya akan ceritakan 10-15 menit hal-hal yang pokok dari pertemuan kami kemarin tanggal 6. Jadi saya undang, di samping jajaran kabinet utuh, BUMN yang berskala besar, LPND, lantas KADIN, private sectors yang besar-besar, ekonom, pengamat, dan juga pimpinan media massa. Jadi konsep kita itu Indonesia incorporated.

Dari itu semua, hanya dua yang ingin saya sampaikan, Bapak/lbu.

Yang pertama, mungkin sudah mendengar, saya itu punya keyakinan penuh bahwa todays situation is much different dengan the situation in 1998. Tidak sama. Tidak berarti kita lalai, tidak waspada, underestimate tetapi sesungguhnya jauh berbeda.

Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk kita panik, kemudian kita tidak bisa berpikir jernih, over react, dan akhirnya salah. lni yang ingin saya sampaikan. Oleh karena itu, waktu itu direktif saya, saya beri judul: "Untuk memelihara momentum pertumbuhan sekarang ini, sambil menyelamatkan perekonomian kita dari krisis keuangan global." Coba masuk ke slide nomor 6.

lni Pak Anwar pasti lebih menguasai sebagai ekonom senior, saya ekonom yunior, langsung praktik lagi.

Baik, yang pertama, dulu 1997-1998, mengapa kita begitu dalam kejatuhan kita, ada masalah fundamental kita, ada market panic, ada vulnerabilities, legal framework, aturan yang tumpang tindih dan sebagainya. Tiga-tiganya itu ada. Mengapa krisis di Indonesia sungguh severe waktu itu, ada misgovernance. Karena itulah Bapak-bapak harus bekerja siang dan malam untuk itu. Ada corruption yang meluas, mendalam.

Oleh karena itulah Pak Antasari bekerja siang malam sekarang. Ada krisis politik sebetulnya saat-saat akhir Pak Harto, terus akhirnya terjadi peristiwa Mei itu, dan seterusnya.

Lantas jangan diabaikan ada insecurity of the ethnic Chinese, capital out flow, mereka hijrah luar biasa dulu, karena peristiwa Mei. Minyak pun jatuh harganya di bawah 20 dollar AS per barrel. Kemudian terjadi El Nino, kekeringan panjang, susah. Nah, ditambah lagi the breakdown in public order dan terjadinya communal conflicts di Sampit, di Maluku, Maluku Utara, Poso, dan sebagainya. Ini potret dulu, pantas kalau krisis kita sungguh buruk.

Secara ekonomi, mengapa juga buruk? Demand drop luar biasa, private investment mengalami penurunan yang drastis, public investment expenditure mengalami pengurangan yang signifikan. Output, bayangkan, dari 7 persen sebelumnya, minus 12-13 persen, income per capita dari 1.100 dollar AS drop 400 dollar AS saja. Belum real income pada tingkat grassroots.

Nah, budget defisit kalau sekarang, meskipun tan­tangannya sangat berat untuk APBN kita, tapi kita belum bicara di atas 2 persen. Dulu 8,5 persen, itu pun bukan untuk ekspansi fiskal sebagaimana remedy, resep yang dianjurkan Keynes menghadapi krisis. Itu habis untuk food, untuk other subsidies for the poor, yang kira-kira berkaitan dengan social safety net yang memang itu juga needed.

Nah, ini disampaikan di tahun 1999 waktu itu, bukan sekarang. Dia, para pakar itu mengatakan, Indonesia itu bagaimana, kira-kira cepat enggak recover-nya itu. Jawabannya ya tergantung, apakah cepat Anda memulihkan private demand, apakah cepat Anda memulihkan kepercayaan. Bagaimana Anda menyelesaikan masalah broken banking system, dan kemudian bagaimana Anda mengatasi utang, debt resolution yang ratusan triliun jumlahnya waktu itu.

Saudara-saudara, mengapa lima butir ini saya angkat, untuk saya mengajak Saudara-saudara sebagai penyelenggara negara yang lain untuk ikut menenangkan keadaan, dan tidak perlu kita lebih panik dibandingkan orang lain yang mestinya lebih tidak memahami hal-hal yang fundamental seperti ini.

Nah, dari situ, saya langsung saja masuk kepada apa yang saya harapkan bagi kita semua yang kemarin hadir, untuk diketahui oleh Bapak/lbu sekalian sehingga nanti ketika ada isu yang berkaitan dengan hal-hal tertentu, dapat memahami konteksnya, memahami latar belakangnya.

Masuk saja langsung slide nomor 26. Ini capaian-capaian ekonomi selama 4 tahun, meskipun masih banyak PR, tapi ada achievement yang tidak boleh kita sia-siakan momentumnya, tapi saya bypass saja.

Baik, jadi yang pertama, Pak Anwar dan teman-teman yang lain, ini yang paling mendasar. Kita harus tetap optimis, bersatu dan bersinergi untuk memelihara momentum pertumbuhan, mengelola dan mengatasi dampak krisis keuangan Amerika Serikat. Situasi sekarang jauh berbeda dengan situasi 1998 dan seterusnya­ dan seterusnya. Dan lihat, mari kita jaga kepercayaan masyarakat.

Ini Amerika yang mbahnya capitalism, mbahnya ekonomi pasar, mbahnya orang yang bisa mengelola finansial dan seterusnya, mengapa lebih buruk, karena ternyata confidence mereka juga drop. Trust di antara lembaga-lembaga keuangan mereka juga rendah sekarang ini.

Jadi bukan hanya Indonesia yang sering panik, sering tidak percaya diri. Negara maju pun yang selama ini mengajari kita, guru kita, juga mengalami masalah yang luar biasa. Itu direktif saya yang pertama kemarin.

Yang kedua, ini memang PR yang saya berikan, tugas yang saya berikan bahwa meskipun keadaan sulit, tapi bagaimanapun kita harus berusaha sangat keras, berusaha maksimal untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi 6 persen. Ini achievable. Manakala skenarionya lebih buruk daripada yang kita pikirkan, yang terjadi sekarang ini ya explainable mengapa tidak sampai 6 persen. Tetapi sekuat tenaga harus kita jaga.

Kita tahu komponen growth itu dari segi demand, demand side, consumption, government expenditure, investment, dan net export dan import. Yang saya minta kemarin kepada seluruh pihak termasuk private sectors untuk menjaganya bersama-sama.

Nah, yang poin ketiga, mari kita manfaatkan per­ekonomian domestik. Ini banyak orang yang tidak tahu bahwa exposure capital market kita ini sebagai sumber pembiayaan, tidak sama dengan negara-negara maju yang sangat mempengaruhi. Kita tidak sebesar mereka. Lantas komponen ekspor kita terhadap growth itu juga tidak sama dengan negara-negara yang ekonominya export oriented economy.

Jadi sebetulnya kita punya capital, punya resources, punya budget, punya sumber-sumber ekonomi lokal yang tidak harus ikut­ ikut terjatuh dalam suasana seperti ini, dari Wall Street ini. Kita masih ingat sabuk pengaman perekonomian kita 1998 dulu kan UKM, koperasi, sektor informal, malah itu yang tenang dulu. Yang berjatuhan yang ekonomi formal, perusahaan-perusahaan, konglomerat, dan sebagainya. Jadi saya punya keyakinan ini pun sebetulnya harus kita daya gunakan dengan baik.

Nomor tiga, nah, ini budget. Budget ini memang kita memilih solusi fiskal bukan berarti solusi moneter tidak penting, tetapi dua-duanya mixed, dan yang lebih cepat, yang lebih direct itu biasanya solusi fiskal untuk pertumbuhan dan untuk social safety net. Exercise yang dilaksanakan Departemen Keuangan, Bapak-bapak, insya Allah tidak akan terganggu. Alokasi biaya untuk pembangunan infrastruktur dan stimulasi pertumbuhan lainnya agar growth dan employment creation itu kita jaga.

Dan juga insya Allah tidak akan berkurang alokasi untuk penanggulangan kemiskinan atau social safety net karena kita harus berempati pada mereka. Program-program tiga cluster yang lainnya akan kita jaga dalam komponen pengeluaran pemerintah dalam budget kita.

Nah, yang mesti kita perhatikan masalah defisit. Defisit ini, Bu Ani sedang melaksanakan exercise, kalau harga minyak sekarang asumsi 95 dollar AS, berapa. Tapi saya sudah minta tolong di-exercise kalau harga minyak 80 dollar AS. Sekarang, hari ini, minggu ini, ICP sudah 80 dollar AS. Jadi kalau 2009 bertahan harga seperti ini, berarti mestinya asumsi harga minyak dalam APBN 2009 ya 80 dollar AS. Mestinya begitu.

Nah, defisit ini, kalau itu terjadi, tidak akan lebih dari 2 persen, meskipun saya harap juga jangan terlalu kecil supaya ada ekspansi. Asalkan begini, dapat dibiayai, ditutup. Saudara tahu, tidak terlalu mudah sekarang mendapatkan sumber-sumber pembiayaan dalam situasi keuangan global seperti ini, tetapi however, my mission kepada Bu Ani dan semua teman-teman menteri bahwa sasaran kembar dual atau twin objective growth with equity ini harus tetap kita pertahankan. Itu yang nomor tiga.

Meski demikian, ini juga BPKP mesti melihat juga nanti tetap dilakukan BPK, saya mohonkan Pak Anwar juga melihat, saya menyerukan kepada seluruh jajaran pemerintahan, termasuk daerah, agar efisiensi dilakukan. Pembatasan terhadap pembelanjaan yang konsumtif yang dapat ditunda, ya tidak realistik kalau masih tetap dipertahankan dalam keadaan seperti ini. APBD ini kita harus keras Bu Ani, keras dalam arti mendisiplinkan.

Jangan sampai yang kurang tidur Jakarta, nanti daerah-daerah business as usual, masih studi banding ke Hongkong, gubernurnya masih liburan di Macau misalnya, wah ini kiamat negara kita. Mata saya sudah bengkak, Pak Antasari, ini akibat kurang tidur, mereka masih jalan-jalan gitu kan celaka nanti.

Oke, yang keempat, dunia usaha. Ini yang penting. Ini ya biasa, saya ini karena sering ketemu teman-teman businessman, ada yang sangat kooperatif, ada yang sangat sharing dengan kita perasaannya, tapi ada juga 1-2 yang dalam keadaan seperti ini, apa yang bisa dilakukan.

Penyakit ini masih ada, terus terang ya, terus terang masih ada. Oleh karena itu, saya memberikan moral appeal, ayolah, masa kita ulangi lagi rakyat kita harus menderita lagi gara-gara kita yang tidak "entos" gitu.

Jadi sektor riil ini maksud saya tetap bergerak. Bapak, jangan sampai ada PHK-PHK yang tidak perlu, bisa saja ekspansi berkurang. Ya memang mesti ada yang mengoreksi lagi dia. Kalau sektor riil tetap kita jaga to a certain degree maka pajak dan penerimaan negara tetap terjaga, dan unemployment harapan kita tidak meledak.

Nah, untuk ini tentu ada kewajiban Bank Indonesia dengan jajaran perbankan, bagaimana urusan kredit, urusan likuiditas ini tetap dipelihara. Kewajiban peme­rintah dan kita sudah, sedang, akan mengolah suatu policy, regulation, climate, dan incentive agar sektor riil ini tetap bergerak.

Dan kewajiban swasta, nah ini saya juga melihat ini baru tiga hari ada teman-teman bisnis yang paniknya luar biasa. SMS berapa kali masuk ke tempat saya ini. Wah, ini kok enggak bagus ini, meskipun yang lain kalem, tenang. Harus lebih resilient dan harus tetap mempertahankan kinerjanya, tetap mencari peluang dan share the hardship.

Ya tidak realistic dalam keadaan seperti ini enggak terganggu sama sekali dia punya pundi-pundi. Mesti ada gangguan, wong ini sangat bisa dijelaskan kok, dan makin tua kita, Pak Sofyan Djalil, saya itu makin tajam, 1-2 teman dunia usaha yang cara berpikirnya tidak sama, ada juga itu, oleh karena itu ya harus kita hentikan. Enggak boleh itu. ltu masalah sektor riil.

Yang kelima. Nah, ini untuk diketahui bahwa dunia uneven sekarang ini. Asia is in a better shape, in a better position dibandingkan Amerika dan Eropa karena jaringan finansial mereka interconnected sehingga berat. Tadi saya baru telepon Perdana Menteri Australia Rudd, meskipun urusannya lebih banyak bilateral, tapi kita juga membahas ini. Saya katakan begini, Pak, ini sedikit keluar, ini kan Australia, itu kan sekutunya Amerika.

Saya bilang dalam keadaan seperti ini Amerika dan negara-negara maju harus lebih bertanggung jawab, lebih berbuat, do more karena dia punya kapasitas. Kalau tidak, bagaimana kami yang negara berkembang ini yang tidak punya kemampuan seperti mereka. Jadi karena ini semua dipengaruhi oleh mereka, ya malah si Kevin Rudd, "Wah, setuju sekali, kalau perlu dipanggil saja itu...", siapa Din, tadi Din? diundang Duta Besar Amerika di sini, sampaikan itu.

Memang betul, ini kan kita kena getahnya. Betul ini, kena getahnya. Nah, oleh karena itu Asia somewhat menurut saya safer. Lebih aman. Itulah kemarin, menteri-menteri kami, Bapak, seperti Menteri Perdagangan, yang lain-lain, saya minta untuk cerdas memelihara komunikasi ini dengan Republik Rakyat Tiongkok, dengan tempat-tempat lain supaya kita bisa terus memelihara hubungan itu.

Saya juga titip pada orang-orang tertentu yang sedang ada di luar negeri, informal track. Coba, apa yang bisa dikerjasamakan untuk misalkan dari Timur Tengah, petro dollar mereka tentu tidak menabrak undang-undang. Dan ini Bu Ani dalam kapasitas sebagai Menko Perekonomian tolong produk kita harus lebih kompetitif, ekspor kita. Jangan sudah begini ada hambatan-hambatan birokrasi kita, hambatan-hambatan yang lainnya bersaing pun kalah, bagaimana mau bersaing sama dumping dari China, yang lain-lain nanti akan ke mana-mana. Ini kita dorong.

Yang keenam, Bapak, ya ini sudah sejak zaman Pak Harto ini kampanye produk dalam negeri. Kalau enggak salah Pak Ginanjar itu pernah menjadi Menteri urusan begini dulu, pernah kan? Ya seperti ini, yang tidak terlalu sukses itu dulu.

Nah, sekarang poinnya begini Pak, kalau ini kita gebrak betul produk dalam negeri, akan bagus neraca pembayaran kita karena sekarang tertekan. Yang berat ini sekarang masalah balance of payment kita. Jadi kalau ini kita perbaiki, insya Allah bagus sehingga tidak mengganggu.

Pasar domestik kita ini makin kuat Pak, makin tumbuh. Jadi Bapak, dengan abdi negara kita naikkan gajinya, dengan bantuan subsidi petani, nelayan, itu dia punya uang untuk membeli. Ini penyakit Pak, ini nomor tiga ini misi penegak hukum. Banyak masih ada saya rasakan departemen-departemen/kementerian yang lebih suka membeli dari luar negeri karena fee, karena komisi, karena yang aneh-aneh gitu, padahal bisa dibikin di dalam negeri.

Oleh karena itu incentive and disincentive system harus kita kenakan. Dan saya sudah minta ada Perpres saya yang mengatur, melaranglah ibaratnya, membeli barang-barang yang kita sendiri bisa di sini bagus sehingga hidup kita punya pasar.

Ini bidang garapnya BPKP, tentu BPK yang lebih luas, lebih atas, KPK, Kejaksaan, Kepolisian, ini masalah procurement. Ini yang saya belum puas sebetulnya selama 4 tahun ini. Masih ada budaya fee yang tidak masuk akal. Saya mengerti dalam negosiasi ada fee-lah gitu, tetapi ketika fee itu tidak dalam konsep fee kan itu masuk penyimpangan itu.

Terus cegah dumping barang luar negeri yang tidak tembus ke pasar Amerika Serikat belok ke pasar emerging market, ini sudah kita ketahui.

Yang ketujuh, ini adalah sinergi atau kemitraan. Pemerintah, Bank Indonesia dengan jajaran perbankan, swasta, dunia usaha. Saya worry kalau ada mistrust, ada prejudice di antara pemerintah, BI, dunia usaha, timbal balik. Harus ada trust dan bebaskan dari prejudice. Saya mengatakan kemarin dalam pertemuan, semua itu penting, swasta penting, pemerintah penting, Bank Indonesia penting, perbankan penting.

Kalau ada masalah, harapan saya di antara tripartit ini, troika ini, pemerintah, dunia usaha, dengan masyarakat, ataupun BI di situ ya pecahkan dengan baiklah. Ini Bapak lihat pada tahun 1998 tidak ada saling kepercayaan, tidak ada kebersamaan, strateginya SDM, Selamatkan Diri Masing-masing, sikap mental "Perusahaan boleh bangkrut, tetapi saya enggak boleh bangkrut", kan ada dulu perusahaannya bangkrut dia hidup tenang di Hongkong, di Shenzhen, di Guangzhou, dan sebagainya.

Dulu ada BPPN macam-macam sambil mengurusi terlalu banyak rezekinya. Itu enggak boleh. Jangan terjadi lagilah, ini sudah lewat, sudah enggak boleh terjadi ke depan.

Yang kedelapan, ini urusan kebanyakan di tempat kami ini Pak, ini ego sektoral dan, ya ego sektoral-lah. Masing-masing hanya melihat kepentingannya. Kalau ini yang terjadi ya merusak kepercayaan itu.

Terus yang kesembilan, ini tahun politik, Pak, tahun Pemilu, tetapi saya berharap kita ini harus non-partisan ya. Kalau sudah begini jangan untuk kepentingan partailah, jangan untuk kepentingan 2009, tapi untuk kepentingan selamatnya negara kita gitu.

Yang kesepuluh, ini masalah komunikasi dengan public. Statement yang terukur, yang diperlukan, dan sebagainya. Selesai.

Dari 10 direktif ini Bapak, yang saya ingin sampaikan nanti dalam kesempatan ini, bisa jadi karena ada tindakan yang harus diambil secara cepat, dan undang-undangnya mungkin belum tersedia, mekanismenya kan kalau itu mesti Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. Tapi harus ada alasan apakah sungguh termasuk kegentingan yang memaksa.

Nah, kalau di tingkat bawah misalkan BUMN ada RUPS, untuk mengambil keputusan tertentu, tapi kalau harus 30 hari menunggunya misalnya, itu bisa panjang. Mungkin ada solusi instead of 30 hari, berapa hari, itu juga mungkin harus dilaksanakan untuk menyelamatkan. Nah, perkara-perkara inilah yang saya minta ada komunikasi, ada konsultasi di antara kita, dengan demikian tidak ada sesuatu yang tidak perlu terjadi.

Saya kira Pak Anwar, Pak Antasari, semua sepakat, saya pernah marah begini Pak, di Aceh itu, tsunami itu, kan banyak barang-barang berhenti di Pelabuhan Belawan. Those items were needed untuk segera di-deliver, dibagi-bagi.

Tetapi dengan alasan karena "aturannya belum ada" maka berhenti di situ. Kalau saya itu bukan orang yang, "wah, ini orang disiplin, yang bagus, yang karena enggak ada peraturannya ya enggak dikeluarkan". Kalau menurut saya malah yang begini ini kalau perlu dihukum itu.

Saya malah salut ada bupati, ada gubernur, enggak ada peraturannya, tapi wong ini mau mati orang ini kok, butuh alat kesehatan, butuh ini, keluarkan dulu. Nanti saya laporkan ke menteri atau ke Presiden, atau saya beri tahu nanti penegak hukum kasusnya begini. Asalkan tidak masuk kantong sendiri.

Itu yang saya maksudkan bahwa in time of crisis, there must be an action, decision that must be taken quickly, yang barangkali mungkin belum ada aturannya. Nah, saya dalam hal ini menganjurkan nanti kepada jajaran kami untuk communicate-lah dengan Bapak sekalian sehingga tidak masuk angin dan kemudian ke sana-kemari.

Itu menurut saya yang bisa terjadi. Bisa juga tidak Bapak/Ibu. Tapi kalau ada satu, dua, saya sudah minta jajaran pemerintah, beri tahu ya, penegak hukum, ini ada masalah ini dan supaya nanti tidak ditangkap wartawan terus ke sana-kemari.

Kadang-kadang maksud kita baik, tapi wartawan kan kreatif itu, wah, padahal bukan itu, hanya untuk selesai ini, ada yang responsive sana, terus menggelinding ke sana-kemari gitu. Ya memang harus kita hadapi dulu, yang penting di antara kita mengerti ada niat-niat yang baik.

Itu yang ingin saya sampaikan. Saya ingin mendengar langsung sekarang dari Pak Anwar Nasution, dan kemudian Pak Antasari dulu, kemudian baru nanti Jaksa Agung, Kapolri, dan Kepala BPKP, bagaimana kita melihat permasalahan ini dengan memahami apa yang tadi saya sampaikan. Silakan Pak Anwar.

Ketua Badan Pemeriksa Keuangan

Bapak Presiden dan Bapak-bapak serta Ibu yang saya hormati. Saya mengucapkan terima kasih pada undangan ini. Sebetulnya saya simpati dan cemburu pada Bapak itu.

Presiden Republik Indonesia

Kok bisa?

Ketua Badan Pemeriksa Keuangan

Karena Bapak ini mendapatkan you got your reward, Pak. Mulai dari tsunami sekarang subprime crisis itu, dan you handled it well, menunjukkan bahwa you are a good general, yang tidak banyak orang dapat tuh. Ini saya kira tantangan yang sangat baik. Jadi terus terang Pak saya simpati dan cemburu pada Bapak itu.

Yang kedua, saya setuju dengan kebersamaan yang tadi Bapak katakan itu pernah kita baca di surat kabar pada waktu Bernanke sama si Paulson ketemu sama Pelosi. Apa yang dilakukan oleh mereka itu minta kebersamaan. Nah si Paulson berlutut menyembah Pelosi.

Pelosi joke dia wah saya pikir kau bukan Katolik, memang kau bukan Katolik kau nyembah, berlutut kayak Katolik gitu. Lha yang kedua si Bernanke bilang, dia katakan kalau kita tidak ambil keputusan, ini sudah hari Kamis, minggu depan pada hari Senin tidak ada lagi ekonomi kita.

Nah di situ kita lihat. Pelosi ini adalah Demokrat. Nah jadi dengan cepat mereka mengambil kebersamaan untuk mengatasi persoalan itu. Nah saya sependapat sekali dengan Bapak itu, dan saya kira you handled it well, Pak Presiden. Nah dalam kaitan ini memang saya terus terang berkali-kali saya katakan kepada Bapak ya memang saya di-trained dan pengalaman saya bidang ekonomi.

Dalam kesempatan ini, saya minta izin pada Bapak nanti Pak Boediono, dia sudah beberapa kali bilang kita ketemu secara pribadi nanti. Pak Boediono dengan Bu Sri Mulyani barangkali mereka perlukan apa dari saya. Saya akan bantu, nah ini sudah di luar BPK ini.

Mengenai BPK, itu permintaan Bapak itu saya kira pas sekali. Nah tadi pagi datang pada saya Luhut Panjaitan, Fachrurozy, sama satu lagi partnership mereka membicarakan mengenai dia punya persoalan dengan PLN. Harga batu bara sudah naik, tapi per KWH itu belum bisa dinaikkan.

Saya bilang, ”Luhut Panjaitan, itu bukan urusan BPK itu, itu urusan PLN dan urusan Pak Menteri ESDM. BPK itu ndak boleh bijak. BPK itu harus berpegang pada aturan itu.

Nah, kalau you mau minta eskalasi harga, you talk to Pak Purnomo. You talk to PLN ya. Nah jelas bahwa BPK akan mengerti itu, jangan lawan sekali-kali mekanisme pasar, salah kalau suruh lawan itu. Itu hukum alam itu. Tapi kembali untuk mengubah harga, itu bukan kewenangan kita itu.

Itu kewenangan Pak Purnomo. Pemerintah yang punya kewenangan itu. Nah, jadi ini yang akan kami pegang Pak. Jadi kembali kalau ada nanti perubahan-perubahan, BPK bukan pengambil kebijakan. Kami akan tetap berpegang pada aturan main yang ditetapkan oleh Pemerintah dan DPR.

Nah kalau arah perubahan yang diperlukan is not our business untuk melakukan perubahan itu. Jadi saya kira ini yang dapat saya sampaikan Pak. Maaf, tadi saya juga sudah memperkirakan barangkali apa yang bisa saya sumbangkan pada krisis sekarang ini. Ini saya susun dalam 1 jam tentunya barangkali ada manfaatnya, barangkali tidak.

Tadi saya katakan pada Pak Rusdi, beliau katakan bahwa Bapak kerja tiap malam sampai jam 12. Saya katakan pada beliau itu seharusnya Bapak Presiden yang menyuruh Ibu Sri Mulyani dan Pak Hatta Rajasa, Sudi Silalahi yang kerja 24 jam sehari.

Bapak Presiden itu seharusnya main golf dengan Ketua BPK supaya kelihatan pada masyarakat bahwa everything is under control. Jadi saya kira itu ya Pak yang bisa saya sampaikan. Terima kasih, Pak.

Presiden Republik Indonesia

Terima kasih Pak Anwar Nasution. Terima kasih. Tadi malam saya ini merancang nonton film Laskar Pelangi, Pak. Bagus. Anak-anak Bangka Belitung, bagus, cantik sekali, sama anak-anak jalanan 100 orang, wartawan. Sudah mau berangkat, Andi bilang saya, ini ada 1-2 SMS masuk dari wartawan. Apakah Presiden tidak membatalkan saja acara ini, wong ekonomi begini kok nonton film.

Saya bilang sama Andi, sama Dino, kalau saya membatalkan dikiranya kiamat Indonesia, dikiranya saya panik, dan apa kata orang nanti. Ini anak-anak sudah nunggu di situ. Yang dari Bangka Belitung naik jalan laut, terbang sampai di situ. Saya ingin mengapresiasi karya seni, kreatif ekonomi dalam negeri, pendidikan.

Akhirnya saya tetap datang Pak, sampai jam 10. Tapi saya jelaskan konteksnya dan tadi malam akhirnya teman-teman seni budayawan merasa ada empati kita dan anak-anak kita juga merasa kita datang gitu. Jadi saya sudah menjalankan nasihat Bapak untuk tadi malam.

Jika saya tidak datang tadi malam Pak, yang jadi berita malah itu, batal, berarti SBY sudah panik dan hari ini malah jatuh semua itu begitu. Thanks, Pak. Saya baca nanti. Pak Antasari saya persilakan.

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

Bapak Presiden yang kami hormati, Ibu-Bapak para menteri, Pak Kapolri dan Jaksa Agung, serta Ketua BPKP. Ada tiga hal Bapak Presiden yang ingin saya sampaikan.

Pertama, sebelum itu adalah kami terus terang secara pribadi maupun sebagai pimpinan KPK memberikan apresiasi sangat tinggi. Ternyata sudah begitu, kami lihat paparan tadi, ternyata kelihatannya kita sudah begitu siap menghadapi ke depan. Untuk itu sebagai sumbangan pemikiran kami, Presiden sebagai Kepala Negara dan kami sebagai bagian dari negara ini. Kita ingin Negara berkembang dengan baik.

Yang pertama adalah pengalaman kami sebagai penegak hukum melihat hal-hal yang seperti ini, apakah itu terjadi di negara kita, sebenarnya adalah kesalahan itu bukan pada tataran kebijakan, kebijakan yang kita keluarkan. Namun sebagian besar adalah adanya oknum yang memanfaatkan kesempatan atas kebijakan yang kita keluarkan. Ini konsentrasi kami pada kondisi ini, Bapak Presiden.

Jadi dengan demikian, Bapak Presiden telah memberikan kebijakan benar dengan seluruh jajaran. Tugas kami adalah mengawasi oknum-oknum untuk tidak menyalahgunakan seperti itu. Yang lalu itu, yang sebenarnya terjadi. Bukan kita melakukan penyidikan penuntutan terhadap kebijakan, tetapi oknum yang menya­lahi kebijakan itu.

Yang kedua, Bapak Presiden, lagi-lagi kami memberikan penghargaan apa yang disampaikan Bapak Presiden tadi bahwa berterima kasih kepada seorang bupati, apabila melakukan sesuatu kepentingan rakyat. Itulah yang setiap kali kami memberikan sosialisasi kepada jajaran departemen maupun mahasiswa dan pemerintah daerah, selalu kami sampaikan ada sesuatu yurisprudensi. Jadi apa yang disampaikan Bapak Presiden tadi berdasarkan hukumnya, Pak.

Ada yurisprudensi yang mengatakan bahwa hi­lang­lah sifat melawan hukum jika kepentingan umum terlayani. Pada suatu kesempatan di pemerintah daerah saya sampaikan apabila seorang wali kota perlu, contoh seperti Bapak Presiden, perlu ada APBD untuk 10 mobil operasional, 1 miliar, tetapi belum dilaksanakan.

Tetapi di saat yang bersamaan ada bencana, rakyat tidak pakai baju, banjir dan lain-lain, saya katakan saya akan memberikan apresiasi kepada wali kota itu, jika sebagian dana pembelian mobil itu dialihkan untuk membantu masyarakat dulu setelah itu baru mekanisme kita atur dengan baik. Artinya apa, kepentingan umum terlayani, sekalipun ada unsur melawan hukum. Tapi kemudian apabila kebijakan ini disimpangi oleh oknumnya, ini yang kami akan lakukan penindakan.

Yang ketiga, Bapak Presiden, adalah ke depan menyikapi hal ini pengalaman-pengalaman kita yang lalu adalah betul kita perlu sinergi, Pak. Sinergi dan tentunya tetap pada tugas kewenangan dan profesi kita masing-masing. Sinergi itu seperti tadi kami sampaikan dan juga Ketua BPK tadi sampaikan. Suatu ketika ada rencana kebijakan yang akan diambil, apa salahnya kita bersama bicara dengan tugas masing-masing, ada rekomendasi pada kebijakan itu, tapi di perundang-undangannya tugas kami adalah mengawal, antisipasi apakah ada kalangan yang akan mengganggu, oknum tentang kebijakan itu, sehingga kepentingan kita ke depan lebih baik, dan kalaupun ada permasalahan sudah dapat kita eliminir di awal-awal.

Itu tiga hal Bapak Presiden yang dapat kami sampaikan. Sekali lagi kami berikan apresiasi dan penghargaan bahwa kami diikutsertakan dalam pertemuan ini, terima kasih. Paling tidak bahwa kita sama-sama memikirkan bagaimana negara kita ke depan. Memang kami independen, tapi kami juga adalah bagian dari negara ini. Jadi terima kasih sekali lagi Bapak Presiden. Terima kasih atas kesempatan ini untuk memberikan kontribusi pemikiran-pemikiran negara kita yang tercinta ini.

Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Presiden Republik Indonesia

Salam. Terima kasih Pak Antasari dan saya berharap Bapak terus bisa mengomunikasikan hal-hal seperti itu kepada para gubernur, bupati, dan wali kota.

Saya ini kan harus ikut merasa bersalah Pak, berdosa kalau para gubernur, bupati, wali kota salah karena tidak tahu kalau itu salah. Tolong dikomunikasikan mana-mana yang proper, mana yang tidak. Mana yang boleh mana yang tidak boleh.

Ya karena bagi saya pemberantasan korupsi itu yang paling penting pencegahan. Kalau sudah korupsi terjadi mungkin ruwet. Mungkin dulunya juga abu-abu, enggak jelas ini itu, dan belum tentu kembali aset atau uang itu. Tetapi kalau kita bisa mencegahnya, itulah yang kita tuju.

Suatu saat barangkali KPK ini dalam pemikiran saya 20 tahun lagi, itu sudah seperti kalau di luar negeri seperti apa itu satu institusi yang misi besarnya to ensure bahwa sistem itu in place, bahwa tidak ada jalan untuk korupsi. Jadi bukan law enforcement-nya itu. Someday ke situ. Karena saya punya keyakinan yang lebih penting itu mencegah korupsi. Tidak ada iklim, tidak ada jalan menuju ke situ. Terima kasih Pak Antasari. Jaksa Agung saya persilakan.

Jaksa Agung

Terima kasih Bapak Presiden. Bapak Presiden yang saya hormati. Pak Ketua BPK, Bapak Menko Polhukam, para menteri, Pak Kapolri dan Ketua KPK, Ketua BPKP yang saya hormati.

Memperhatikan apa yang jadi direction Bapak Presiden, saya melihat sudah sangat komprehensif Pak, sangat, seluruhnya adalah untuk kepentingan rakyat. Jadi tidak ada kebijaksanaan dari Bapak Presiden yang sangat komprehensif itu memperhatikannya tidak ada yang bersifat melawan hukum. Atau di dalam ketentuan baik yang formal maupun yang material, Pak. Yang formal itu adalah sesuai dengan ketentuan undang-undang semuanya karena landasannya adalah Undang-Undang Dasar, tidak ada yang bertentangan, Pak.

Kemudian juga tidak ada yang menyalahgunakan wewenang sarana dan prasarana yang ada di dalam jabatan itu, sebagaimana yang disampaikan tadi oleh Ketua KPK.

Kemudian apabila di dalam kebijaksanaan itu menimbulkan kerugian negara atau juga menimbulkan gangguan terhadap perekonomian negara, maka kebijaksanaan itu pun juga tidak bisa dipertanggungjawabkan secara pidana karena kebijaksanaan itu sendiri adalah semua sudah berlandaskan kepada ketentuan-ketentuan yang ada tadi sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua KPK.

Yang perlu dicegah adalah penyalahgunaan kebijaksanaan itu. Itu yang harus dicegah sebagaimana tadi Bapak sampaikan ada yang sambil ngurusi cari rezeki itu, Pak.

Ini yang menjadi masalah bagi kita itu, Pak, karena kadang-kadang orang Indonesia itu pintar mencari peluang-peluang itu. Ada spekulan-spekulan yang memanfaatkan situasi yang ada, itu kemudian ada cara-cara menggoreng saham yang menimbulkan kerugian di dalam perekonomian negara. Kalau Undang-Undang Korupsi itu bukan hanya kerugian negara yang timbul yang bisa dihitung oleh BPK maupun BPKP, melainkan juga perekonomian negara ini.

Nah dalam praktik peradilan itu kalau keuangan negara dihitung oleh BPK maupun BPKP, kalau perekonomian negara sampai hari ini itu, pengadilan itu belum memutuskan apabila terjadi suatu kegoncangan perekonomian negara. Apa yang dimaksud dengan perekonomian negara.

Dulu ada Pak, undang-undang subversi itu, yang mengganggu perekonomian negara dan distribusi, tetapi itu sudah dihilangkan. Dan di dalam Undang-Undang Korupsi ini Pasal 2 dan Pasal 3 itu menyebutkan perekonomian negara, tetapi dalam praktik peradilannya tidak pernah terjadi mengenai pembuktian perekonomian negara itu.

Nah, kalau kita melihat memang di dalam Undang-Undang Korupsi Pasal 2 dan Pasal 3 itu seperti undang-undang karet, Pak, bisa ditarik-ulur ke mana-mana. Jadi sejauh bisa menimbulkan kerugian negara dan perekonomian negara, dan itu merupakan suatu perbuatan melawan hukum atau menyalahgunakan sarana dan prasarana, itu sudah masuk di dalam tindak pidana korupsi.

Jadi apa yang tadi Bapak sampaikan semua kebijaksanaan Bapak tadi adalah semuanya untuk kesejahteraan masyarakat. Sebagaimana saya membaca di surat kabar, untuk pembelian buy back saham itu semua adalah kebijaksanaan yang menguntungkan masyarakat, membawa kesejahteraan masyarakat. Seandainya terjadi kerugian, itu tidak bisa dijadikan suatu perbuatan pidana di dalam Undang-Undang Nomor 2 dan 3 Undang-Undang Nomor 31/1999.

Pada prinsipnya Pak, karena saya dengan Pak Antasari itu kan pekarangannya sama Pak, jadi pendapat anunya itu hampir bersamaan. Terima kasih, Bapak Presiden.

Presiden Republik Indonesia

Terima kasih, Bapak. Sebelum Kapolri, begini, ada ilustrasi lagi, Pak ini. Ada seorang sakit, tahun 1965, tahun 1970-lah gitu, sudah sampai di sini, terus diperiksa oleh dokter harus diamputasi, supaya selamat. Setelah itu diamputasi. Nah, tahun 1995, 30 tahun kemudian, dengan pengacaranya, bukan maunya dia, diadukan karena kenapa harus dipotong, ternyata tidak harus dipotong karena menurut teori itu begini, begini, begitu.

Nah teori itu kebetulan berkembang di tahun 1995, maka yang tidak logis apakah iya tahun 1965 dipersalahkan karena memotong tangan yang menurut aturan waktu itu iya itu yang terbaik untuk keselamatan. Lha kalau sekarang berkembang kedokteran, kan itu sekarang tidak bisa begitu. Agak ekstrem analogi ini. Tetapi maksud saya, ketika harus melihat sesuatu dalam masa yang tidak mudah itu, jangan dilihat ketika tenang-tenang saja, enggak ada apa-apa, seperti itu saya kira.

Menurut saya, ini bagian dari wisdom dalam arti yang positif, bukan supaya kita ini, tidak. Begini Pak, saya ini sebagai Bapak, sekarang SMS masuk tiap hari banyak, Pak. Bapak belum tahu tiap hari itu saya menerima 500 SMS per day, rata-rata bisa 700, bisa 300 sekian.

Pernah saya baca satu per satu 459. Itu ada yang urusan korupsi harus habis-habisan, tapi ada kalau nanti enggak ada aturan, takut semua Pak, jadi lautan ketakutan nanti. Wah ini itu-ini itu, segala macam. Sebagai Bapak, kan saya harus memahami apa ini maksudnya.

Tapi poinnya adalah harus rasional tetap adil, kemudian common sense dan sebagainya. Sebab kalau tidak, nanti itu tadi, kita malah terus tidak menghadirkan ketenteraman. Mendengar semua tadi, saya lebih senang, ternyata cara pandang kita sama. Dan seelok-eloknya pencegahan memang, kalau korupsi itu. Mungkin bisa saja ada orang baik-baik tiba-tiba keseleo, sudah 30 tahun baik-baik kok keseleo. Tapi kalau pencegahan itu berhasil, tidak akan banyak orang kejeglong seperti itu. Baik, selanjutnya Kapolri, silakan.

Whether Fanoos May Be Paid In Cash

COMPASS/LATE MONDAY carrying sacks of PATRIA GUPTAWarga poor rice at the time of grant of tithes in the Office of Chalidana Group in the highway town of Surabaya, Wiyung, Saturday (11/8/2012). Hari Raya Aidilfitri admits a lot of agencies or individuals who were issued to poor residents. zakat

Question:

Mr. UST, is it true that wajibnya fanoos with rice? If replaced with money, what's his name to zakat Mall?

Yogimul in Jakarta

Answers

Brother of the blessed God, Yogi

Essentially fanoos is a staple. As mentioned in one Hadith, Personalities in the form of an obliging fanoos sho ' sho ' dates or one grain for each independent Muslims and slaves, male and female, child or adult. Ordered to perform zakat personalities this before people leave for perform prayer ID. " (Narrated By Bukhari)

In Indonesia, the size used fanoos is 2.5 kg of rice. Pay with money fanoos allowed by imams like Imam Abu Hanifa, Imam, Muhammad al-Bukhari Thawri, Ibn Taymiyyah and Imam. The word of God Almighty (that), "take a portion of their property of zakat." (QS at-Tawba [9]: 103).

According to the scholars, this paragraph suggests that tithes were originally taken from the treasure (mal), namely that which in the form of gold and silver (including money). So this verse allows pay in the form of fanoos money, its worth the equivalent of 2.5 kg of rice.

According to Yusuf Qardhawi, zakat payment with money will provide convenience for amil, muzakki, and mustahik. Mustahik can easily spend it according to your needs.

Wallahu'alam

DR H Setiawan Budi Utomo

You can consult about Ramadan to Dr. H Setiawan Budi Utomo here. You can also read the questions and answers that have been aired in Ramadan special coverage of the 2012.

Kabareskrim Meet Jampidsus at the Attorney General's Office

COMPASS/Kris R MadaKepala Criminal Police Agency Commissioner General Sutarman.

JAKARTA, KOMPAS.com – head of Criminal Agency (Bareskrim), the Commissioner-General of the national police came to the House Special Sutarman Attorney General's Office, Jakarta, Wednesday (15/8/2012) and met with the Attorney General's Criminal Youth Special (Jampidsus), Andhi Nirwanto Ago.

It was justified by that he met with Mr. Andhi Sutarman. "Kabareskrim over here hospitality," bright Andhi, Wednesday (15/8/2012).

According to Mr. Andhi Sutarman would not specifically to discuss the alleged corruption case simulator SIM in the traffic Corps (Korlantas) Police. However, he is not deliberately discuss the notice the start of Investigation (SPDP) who have been admitted to the Attorney General.

"In the hospitality, it is among other things, we did ask the SPDP already thank (SPDP). Instead of asking, but eventually the problem was, "the offending bright Andhi.

There are special consolidation Andhi denied to discuss the case of SIM simulator for his encounter with Sutarman. According to Mr. Andhi, Sutarman only met with him. One only comes a Sutarman themselves.

As known, the case of corruption is now central tackled corruption eradication Commission (KPK) and the national police. The case dragged some of the members of his own Police Inspector Djoko Susilo, the Bgen Pol Educates Purnomo, AKBP Teddy Rusmawan, Suprapto Kompol Legimo.

Kok Can Still Convict Corruption Remissions

JAKARTA, KOMPAS.com – a number of convict corruption case still got remission independence day, though the Ministry of Law and human rights impose tightening policy against corruptor remissions. Why is this so?

The Director General of prisons Sihabuddin replied, still granted remission because the new Government regulations regarding remission has not been so tightening.

"We are still using PP 28 used to be back," said Sihabuddin in the KPK, Kuningan, Jakarta, Wednesday (15/8/2012), after evaluating the condition of the House Arrest of East Jakarta branch of KPK.

As for the PP 28 is Sihabuddin is Number 28 PP in 2006 about the terms and the procedures for the exercise of Citizen Building. PP it mentions, the granting of remission or reduction of penalties for corruption, prisoners of terrorism, narcotics, illegal logging, and transnational crime carried out after undergoing a third concerned the criminal. The tightening of the rules in this remission PP 28 has not been tightened.

Ministry of law and HUMAN RIGHTS seeks to tighten the granting of remission through revision 28 PP. Sihabuddin said it had submitted a draft replacement for PP 28 to President Susilo Bambang Yudhoyono.

"Obviously we've done efforts tighten up but of course still back to PP 28 to be able to use the basic law for the perpetrators of the crime, corruption and narcotics, terrorist," he said.

Meanwhile, the Director of Bina and Inmates of Prisons Service Custody Ditjen Rachmat Priyo Sutarjo hope, change it immediately passed 28 PP.

"Hopefully it changes, right down to for those who are not receiving about remission justice collaborator," said Rachmat.

As reported previously, a number of prisoners languishing in the corruption case that Sukamiskin Penitentiary, West Java, got a general remission (17 August) and a special remission (Eid). They include Gaius who got remission H Tambunan independence day for three months as well as a special Eid al-Fitr remissions for a month.

Bribery case against the convicted person then judge Syarifuddin, Puguh Wirawan. The curator was sentenced to 3.5 years in prison by 2011 it gets three-month remission as well as General special Eid remission of one month.

Saturday, August 18, 2012

The Former President's Statement, Align The Share Transcripts Of Meetings

JAKARTA, KOMPAS.com — for the sake of righting the preaching of a growing that President Susilo Bambang Yudhoyono led the meeting to discuss the Bank Century bailout plan, meeting transcripts also revealed.

The President specifically gives a book containing transcripts of all the talks at a meeting on October 9, 2008 to the mass media.

"The meeting was a complete Documentation. His record intact. There is video footage from the beginning to the end of the meeting. Photographs and documentation if you want to add a note of each Minister in attendance. A full transcript would be my share today, "the President said while representing the blue book at a press conference at Istana Negara, Jakarta, Wednesday (15/8/2012) night.

The President acknowledged the existence of the meeting on October 9, 2008. However, according to the President, was not inscribed in order to discuss the bailout plan but rather konsulitasi with the auditor of the Century and how to anticipate the possibility of penagak the law came from the economic crisis.

At the meeting, present a number of clear President, Cabinet Ministers United Indonesia I at that time i.e. Menkopohukam AS Coordinating Minister for the economy, Widodo ad interim Secretary of Sri Mulyani, Hatta Rajasa, Chief Cabinet Secretary and Minister Silalahi, SOE Sofyan Djalil.

In addition, the invitation to attend a number of Auditors and law enforcement which is the Chairman of CPC, Anwar Nasution, Chairman of KPK, Antasari Azhar Attorney General Hendarman Soepandji Bambang Hendarso Danuri Kapolri, and Chairman of Didi Widayadi BPKP.

Each was asked to give his views on the Presidential anticipation of facing the impact of the world economic crisis and taken directly by the President. While none of the Ministers asked for response time.

President menjelaskana pertamuan introductory sequence began on the development of situas conveys the world and what kind of impact and impilkasinya of indonesia's economy.

Then, one by one, except for the Minister, conveying his views. View Chairman MR Anwar begins Nasution, Chairman of KPK view continued Antasari Azhar, the Attorney General, and the final view Kapolri, Chief of BPKP.

A suspect Case of Calls Al Quran Mangkir KPK Examination

COMPASS/LUCKY PRANSISKAJuru Talk KPK, Johan Budi.

KPK JAKARTA, KOMPAS.com-A suspect case of alleged bribes budgeting project Al Quran and Religious Ministry laboratory project, Dendy, mangkir of call Prasetya examination corruption eradication Commission, Wednesday (15/8/2012). Dendy was intended to review related position as suspect.

"The suspect DP (Dendy Presetya) is today scheduled as a suspect, but did not attend and there has been no information about it's absence," said Spokesman Johan Budi, CCA, in Jakarta, Wednesday.

He continued, KPK will return call Dendy to be examined. Related possibility is put on hold after the Dendy was undergoing its first examination later, Johan said it could have been done.

"Certainly the callings as a suspect could be done, could also not detention," said Johan.

CCA announces establishment of Dendy as a suspect on June 29, 2012. Dendy and his father, a member of the House of representatives Commission VIII, Zulkarnaen, designated as suspects 33,14 for allegedly accepting a bribe related budgeting project Al Quran and laboratory projects in MTS Kemenag.

Dendy dijerat in his capacity as Director of PT KSAI, Religious Ministry partners in these two projects. So far, the COMMISSION has yet to schedule an examination Zulkarnaen. When asked why the first called than Dendy Zulkarnaen, Johan said it was a strategy of investigation.

Related investigation of this case, a number of witnesses have been checking out the CUP, of which three Religious Ministry official, the Director of the religious affairs of Islamic Sharia, Directorate General of Coaching Coaching Community (Bimas) of Islam, Ahmad Jauhari, Secretary of the Islamic, Ditjen Bimas Abdul Karim, and Kasubdit Kepenghuluan, Mashuri.

In addition to conducting the investigation, the COMMISSION has also opened a new investigation related project Al Quran and Kemenag laboratory project. The investigation was Kemenag persons who allegedly sweep involved.